Monday 23 April 2018

Kapan Saat Membeli Reksa Dana

Benjamin Graham (the father of value Investing) pernah menulis bahwa menghasilkan uang untuk investasi harus bergantung pada "sejumlah usaha cerdas yang dapat dilakukan oleh seorang investor untuk melakukan tugasnya" dalam menganalisa Sekuritas. Dia mendefinisikan investor yang cerdas sebagai individu giat yang memiliki waktu dan energi untuk melakukan riset investasinya sendiri.

Berbeda dengan investor cerdas sebagai investor defensif yang lebih suka memilih saham, obligasi, dan aset keuangan lain untuk kepentingannya dimana mempekerjakan penasihat keuangan tentu saja merupakan salah satu alternative pilihan, namun sebagian besar investor ritel dan juga kebanyakan institusional investor biasanya lebih suka memilih dan mempekerjakan Manajer Investasi melalui pembelian “Reksa dana”. Reksa dana dapat menjadi tambahan pilihan yang bagus untuk portofolio merka, tetapi dengan begitu banyak pilihan yang berbeda, mungkin sulit untuk menilai produk dan strategi mana yang terbaik untuk setiap individu. Dalam beberapa kasus, Oblgasi dan Saham mungkin pilihan (opsi) yang bagus namun dalam kasus lain Reksa dana mungkin pilihan yang lebih tepat, jadi penting untuk mengetahui kapan pilihan(opsi) lain menjadi suatu yang mungkin lebih cocok.

Di bawah ini adalah gambaran tentang kapan waktu yang tepat untuk berinvestasi melalui pembelian Reksa dana.

1) Toleransi resiko (Risk Tolerance).

Langkah pertama dalam menentukan kesesuaian setiap produk investasi adalah “menilai toleransi risiko” anda. Risk Tolerance adalah “kemampuan dan keinginan investor untuk menerima atau mengambil risiko sebagai imbalan atas kemungkinan tingkat pengembalian (laba) yang lebih tinggi”. Meskipun Reksadana sering dianggap sebagai salah satu investasi yang lebih aman di pasar, namun jenis reksa dana tertentu tidaklah cocok untuk mereka yang tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerugian dengan segala cara. Misalnya, Reksadana saham agresif, tidak cocok untuk investor dengan tingkat toleransi risiko yang rendah. Demikian pula, beberapa Reksadana obligasi imbal hasil tinggi mungkin juga menjadi terlalu berisiko jika mereka berinvestasi dalam obligasi bertingkat rendah (Junk Bonds) untuk menghasilkan laba yang lebih tinggi. Jika Risk Tolerance seorang Investor masuk dalam kategori Rendah (low) maka disarankan agar membeli produk Reksadana dengan tingkat resiko yang rendah, Reksadana Pasar Uang dan Reksadana Pendapatan Tetap yang berfokus pada Obligasi pemerintah dan perusahaan bernilai tinggi menjadi pilihan yang lebih tepat.

2) Tujuan Investasi (Investment Objective).

“Tujuan Investasi spesifik” Anda adalah salah satu pertimbangan paling utama ketika menilai kecocokan Reksadana, dengan membuat beberapa Reksadana lebih tepat untuk anda daripada yang Reksadana lainnya. Bagi seorang investor yang tujuan utamanya adalah untuk “mempertahankan modal”, berarti Dia bersedia menerima keuntungan yang lebih rendah sebagai imbalan atas keamanan investasi nya dan Reksadana berisiko tinggi tidaklah cocok. Tipe investor ini memiliki toleransi risiko yang rendah (low) dan harus menghindari sebagian besar Reksadana saham dan Reksadana obligasi yang lebih agresif. Sebaliknya, carilah Reksadana obligasi yang berinvestasi hanya dalam Obligasi Pemerintah atau Korporasi bernilai tinggi atau Reksadana pasar uang. Jika tujuan utama investor adalah “menghasilkan laba besar”, ia cenderung bersedia mengambil lebih banyak risiko. Dalam hal ini, Reksadana Saham dan Reksadana obligasi dengan imbal hasil yang tinggi dapat menjadi pilihan yang sangat baik meskipun potensi resiko ikut meningkat, Reksadana ini memiliki Manajer Investasi profesional yang lebih mungkin daripada investor ritel rata-rata untuk menghasilkan keuntungan besar dengan membeli dan menjual saham-saham dengan volatilitas tinggi dan sekuritas utang yang berisiko. Investor yang ingin secara agresif menumbuhkan kekayaannya tidak cocok dengan Reksadana pasar uang dan produk-produk lain yang sangat stabil karena tingkat pengembalian sering tidak lebih besar daripada inflasi.

 

 

3) Penghasilan yang diinginkan.

Reksadana menghasilkan dua jenis pendapatan: Capital gain dan Dividen (Coupon). Meskipun setiap laba bersih yang dihasilkan oleh sebuah Reksadana harus diteruskan kepada pemegang unit reksadana setidaknya setahun sekali, dimana tiap tiap Reksadana membuat distribusi yang sangat bervariasi. Jika seorang investor ingin menumbuhkan kekayaannya dalam jangka panjang dan tidak peduli dengan menghasilkan pendapatan langsung (jangka pendek), Reksadana yang fokus pada pertumbuhan saham dengan strategi beli (buy) dan tahan (hold) adalah pilihan yang terbaik karena mereka umumnya mengeluarkan biaya transaksi yang lebih rendah dan memiliki sedikit dampak pajak dibandingkan jenis Reksadana lainnya. Jika sebaliknya Investor ingin menggunakan investasinya untuk menciptakan pendapatan rutin, Reksadana yang berfokus dividen merupakan pilihan yang sangat baik.

Reksadana ini berinvestasi dalam berbagai macam saham deviden (Deviden Stocks) dan obligasi berbunga yang membayar dividen(Coupon) setidaknya setiap tahun namun biasa nya setiap tiga bulan atau setiap enam bulan sekali. Meskipun Reksadana dengan porsi saham yang lebih besar menjadi lebih berisiko namun jenis Reksadana Campuran (Balance Fund) ini memiliki berbagai tingkat rasio bauran Asset Class yang lebar untuk meminimalkan Resiko

4) Jangan berfokus Pada Kinerja Jangka Pendek.

Ada sejumlah keuntungan yang akan dihasilkan dalam Reksadana, namun kebanyakan investor jatuh ke dalam beberapa jebakan yang membuat mereka tidak dapat memaksimalkan keuntungan ketika berinvestasi dalam Reksadana. Terlalu fokus pada hasil jangka pendek bisa menjadi masalah besar. Seperti halnya sekuritas secara individual (saham, Obligasi, dll), mengejar kinerja jangka pendek bisa menjadi hal negatif ketika membeli Reksadana. hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan bahwa Reksadana yang berkinerja baik selama satu kuartal atau bahkan beberapa kuartal berturut-turut, bisa mencerminkan keterampilan Pengelolaan Reksadana. Sebagaimana Benjamin Graham tunjukkan dalam “Intelligent Investor”, bahwa fluktuasi jangka pendek bisa dibilang acak (random). Satu-satunya cara yang pasti untuk menentukan apakah Manajer Reksadana memiliki keterampilan investasi lebih tinggi daripada keberuntungan adalah dengan mengukur kinerjanya melalui siklus pasar penuh selama tiga tahun hingga lima tahun. Kinerja Reksadana dengan beberapa kuartal yang buruk, tetapi dengan rekam jejak jangka panjang yang hebat, masih bisa dijadikan pilihan Reksadana yang bagus untuk dibeli.

5) Kapan Reksadana menjadi Pilihan yang tidak tepat?

Dalam beberapa situasi, Reksadana mungkin bukan pilihan terbaik untuk seorang Investor meskipun Reksadana menawarkan tingkat diversifikasi dimana sebagian besar investor individu tidak dapat menandingi, membeli Reksadana juga berarti investor harus menyerahkan kendali atas investasinya kepada Manajer Investasi Professional. Ini berarti Reksadana tidak tepat untuk investor yang ingin memainkan peran aktif dalam alokasi investasi dan strategi perdagangan nya. Reksa dana dikelola oleh para Manajer Investasi Profesional yang berpengalaman, yang umumnya dianggap sebagai salah satu kekuatan dan manfaat utama investasi di Reksadana. Namun, seorang investor yang ingin tahu bagaimana, mengapa dan kapan setiap rupiah yang diinvestasikan, akan lebih cocok untuk mengelola portofolio sendiri.

Selain itu, Reksadana mungkin bukan pilihan terbaik untuk Investor yang sangat peduli dengan pengeluaran atau biaya (fee) Transaksi. Tidak seperti berinvestasi dalam saham atau obligasi individu, Reksadana kadang mengharuskan pemegang unit untuk membayar biaya (Fee) tahunan yang cukup besar dari nilai investasi mereka. Ini berarti setiap Reksadana harus menghasilkan pengembalian (imbal hasil) tahunan yang lebih besar daripada Rasio biaya agar pemegang unit mendapatkan keuntungan.
Reksadana dengan imbal hasil tinggi memerlukan gaya pengelolaan yang sangat aktif, yang  berarti Rasio biaya bisa meningkat, untuk mengimbangi biaya yang dihasilkan oleh perdagangan aset yang sering (aktif). Portofolio yang lebih pasif dikelola mungkin memiliki rasio biaya yang jauh lebih rendah, tetapi ini sering kali berakhir dengan hasil yang lebih rendah karena dana ini terutama berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang daripada menghasilkan imbal hasil tertinggi.

Kesimpulan

Ketika seorang Investor akan membeli Reksadana, investor harus melakukan pekerjaan rumah mereka, menambahkan beberapa area penting yang berhubungan dengan tujuan investasi mereka untuk diteliti sebelum membeli Produk Reksadana, dalam beberapa hal, ini lebih mudah daripada berfokus membeli sekuritas secara individu ( baik saham maupun obligasi), Secara keseluruhan, ada banyak alasan mengapa investasi dalam Reksadana begitu masuk akal dan dengan sedikit penilaian dapat membuat semua variasi produk Reksadana memberikan ukuran kenyamanan yang bagi seorang investor.


Widiarto Wibowo
Fund Service Team
PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia


Mohon Tunggu Sedang Memuat Halaman...